Friday, February 25, 2011

kumpulan


Peranan Pendidikan Seni Budaya
Ditulis oleh FalsBurgers
Wednesday, 07 July 2004
Terakhir Diperbaharui Wednesday, 06 May 2009
Pendidikan Seni Budaya diberikan di sekolah karena keunikan perannya yang tak mampu diemban oleh mata pelajaran
lain. Keunikan tersebut terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan
berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan
“belajar tentang seni”.Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan
multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai
cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna
pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan
kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural
mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam
budaya Nusantara dan mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan
seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk. Pendidikan Seni Budaya
memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan
perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual
spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas (AQ), kreativitas (CQ), spiritual dan
moral (SQ).
Definisi KecerdasanC.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan
menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan
bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu : (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan
pengetahuan yang diperoleh; dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada
umumnya.Memang, semula kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan
aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh
Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau Thurstone dengan teori “Primary
Mental Abilities”-nya. Dari kajian ini, menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam
bentuk Inteligent Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age)
dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan
Genius (Weschler dalam Nana Syaodih, 2005). Istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari
Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yang
dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes
Stanford-Binet.Selama bertahun-tahun IQ telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan, namun sejalan dengan
tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan
sekaligus menggairahkan di kalangan akademisi, pendidik, praktisi bisnis dan bahkan publik awam, terutama apabila
dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi hidup seseorang. Kecerdasan AdversitasKecerdasan
adversitas(AQ, Adversity Quotient) adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan sanggup
bertahan hidup. Dengan AQ, seseorang seperti diukur kemampuannya dalam menghadapi setiap persoalan hidup agar
tidak putus asa. Penemuan Paul G. Stolzt, Ph.D ini sudah mendapat legitimasi pula dari hasil temuan psikolog social
Amerika, David mc. Cleland, mengenai kebutuhan berprestasi, yakni The Need for Achievement (N-Ach). Bahkan Sclotz
berkesimpulan bahwa IQ dan EQ tidak lagi memadai untuk meraih sukses. Karena itu, pasti ada factor lain berupa
motivasi, dorongan dari dalam serta sikap pantang menyerah. Faktor itu kemudian disebut Adversity Quotient.Dalam
bukunya itu, Sclotz membagi manusia ke dalam 3 tipe, yaitu 1. Quitters(mereka yang berhenti). Orang jenis ini berhenti di
tengah proses pendakian, gampang putus asa, mudah menyerah.2. Campers(pekemah). Tidak mencapai puncak,
merasa puas dengan yang telah dicapai.kilah mereka, “Segini saja sudah cukup, ngapain capek-capek.”
Orang ini lebih banyak jumlahnya dibanding quitters. Mereka menduga apa yang telah dicapai merupakan kesuksesan
akhir. Padahal tidak demikian sebenarnya. Sebab masih banyak potensi mereka yang belum tergali.3.
Climbers(pendaki). Mereka yang selalu optimis, melihat peluang-peluang, melihat celah, melihat harapan di balik
keputus-asaan, selalu bergairah untuk maju. Titik kecil yang oleh orang lain dianggap sepele, bagi para climbers
dianggap sebagai cahaya kesuksesan. Dalam teori psikologi, Sclotz menempatkan climbers ini pada piramida puncak
hierarki kebutuhan yang disebiut dalam teori Maslow sebagai aktualisasi diri. Dengan semangat Al Matin, kita mesti
berani membunuh sifat-sifat pengecut yang bersarang dalam pikiran (mind) dan jiwa, sebab ini hanya akan menghambat
keberhasilan. Untuk apa kita takut, sebab langit dan bumi dimana kita bagian darinya adalah kepunyaan Allah dan dia
telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang(Ar-rahmah) (QS Al An’am(6):12). Artinya bahwa Tuhan tidak akan
pernah membiarkan kita. Tebaran kasih sayangnya senantiasa menyelimuti kita. Menyertai setiap perjalanan kita,
sehingga tidak ada alasan untuk takut menjalani hidup ini. Prof. Dr. Hamka mengatakan, “Jangan takut, sebab
yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, sebab yang tidak pernah agal hanyalah
orang yang tidak pernah mencoba melangkah. Jangan takut salah, sebab orang dengan kesalahan yang pertama, kita
dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah kedua.” Itulah sebabnya,
berhentilah merasa lelah dan hiduplah dengan penuh vitalitas. Hancurkanlah kemalasan dan perasaan gagal dalam
hidup. Ingatlah kata-kata Muhammad Iqbal,”Tuhan adalah kekuatan. Berikan karakter dan imajinasi yang sehat,
maka kita dapat membangun kembali dunia yang penuh dosa dan penderitaan ini menjadi surga
www.falsburgers.biz
http://falsburgers.biz Powered by: Joomla! Generated: 11 January, 2010, 19:41
nyata.” Kecerdasan SpiritualMengutip lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A.
Emmons, The Psychology of Ultimate Concerns: (1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material;(2)
kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak;(3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman
sehari-hari; (4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah;(5) kemampuan
untuk berbuat baik. Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Kita yang
merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material.Ia
memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia
merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indrianya. Sanktifikasi pengalaman
sehari-hari, ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad
pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di
antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria,
gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, Apa
yangsedang Anda kerjakan? Yang cemberut menjawab, Saya sedang menumpuk batu.Yang ceria berkata, Saya sedang
membangun katedral! Yang kedua telah mengangkat pekerjaan menumpuk bata pada dataran makna yang lebih luhur.
Ia telah melakukan sanktifikasi. Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara
rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada
warisan spiritual seperti teksteks Kitab Suci atau wejangan orang-orang suci- untuk memberikan penafsiran pada situasi
yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi. Kecerdasan EmosionalDulu pernah ada pandangan bahwa faktor
dominan yang menyebabkan seseorang sukses dalam masyarakat, dunia usaha/industri, dan pemerintahan adalah
kecerdasan intelektual. Pengalaman dan hasil penelitian membuktikan bahwa faktor dominan penyebab kesuksesan
sesorang adalah kecerdasan spiritual dan emosioanal. Daniel Goleman, seorang ahli psikologi berpendapat bahwa IQ
hanya menyumbangkan 20% terhadap keberhasilan seseorang, selebihnya ditentukan oleh faktor-faktor lain dimana EQ
termasuk di dalamnya (Suyanto dan Djihad Hisyam (2000:9) Daniel Goleman adalah salah seorang yang
mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi
terhadap prestasi seseorang, yakni Kecerdasan Emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan
Emotional Quotient (EQ). Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang
mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan
emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri,
pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. Patricia Patton (Suyanto dan Djihad Hisyam, 2000:9) EQ
meliputi sifat-sifat atau karakter manusia seperti : (1) self-awareness (kesadaran); (2) mood management (manajemen
suasana hati), yaitu optimis, tahan uji, sabar dan sebagainya; self motivation (motivasi diri); impulse control
(pengendalian insting atau ledakan-ledakan diri); (5) people skills (ketrampilan). Sementara itu Arif Rachman (Widayati
2002:68,70) menyatakan bahwa hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam EQ (Emotional Quotient) adalah : (1)
kontrol diri : kendali akal, perasaan, iman(2) kemampuan bekerja sama : saling pengertian, tenggang rasa, pemaaf,
menerima kekurangan(3) love (cinta ) : jujur, berbagi (kegembiraan/kesedihan), perhatian Jadi kemampuan untuk
mempunyai kreativitas tidak hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai bakat seni. Setiap orang dapat mewujudkan
gagasan kreativitas. Seni budaya yang diajarkan di sekolah adalah sarana untuk merangsang agar siswa mempunyai
keinginan untuk berusaha keras untuk mewujudkan gagasannya atau ide-idenya. Melalui pendidikan seni budaya, maka
siswa diarahkan untuk menghargai hasil karya seni budaya, dapat memberikan tanggapan, dapat mengembangkan
kreativitas baik dalam bidang seni maupun bidang lainnya, serta mempunyai kepekaan indrawi. Ini semua sebagai bekal
siswa pada saat ia kelak terjun dalam kehidupan bermasyarakat.
www.falsburgers.biz
http:/

No comments:

Post a Comment

mylogo product

check my folio ( ">https://99designs.com/users/731428 ) for Logo Design?

About this blog

> nb ; jangan cuma bisa membuat karya visual yang bagus, analisa sangat penting di dalamnya. teori juga bagus untuk pertanggungjaawaban karya.
assalamualaikum wrb, hom suastiastu, salam damai sejahtera, salam piss, salam metal, salam semua etnis di dunia, semua aliran, semua ras, salam tradisi, salam budaya. salam dunia selalu.
facebooku
all about design & original